Batik Duplex on Kompas Newspaper

(Batik Dua Muka ; Batik Dua Sisi ; Batik Duplex)

BATIK merupakan salah satu ragam khasanah seni-budaya Indonesia. Keindahannya sudah teruji, sampai-sampai mampu menembus pasar dunia. Tak heran bila Kerajaan Malaysia begitu ngotot mengklaim batik sebagai milik mereka kendati senyatanya batik yang mereka miliki merupakan batik-batik import dari Indonesia. Dewasa ini, perkembangan batik terbilang sangat pesat. Setelah batik cap muncul memecah kebuntuan lambatnya produksi batik tulis, kini muncul lagi ragam batik baru yang cukup memikat, namanya Batik Duplex (Batik Dua Sisi)

Batik Duplex merupakan ragam batik cap yang semua motif-motifnya dicetak pada kedua belah sisi kain.

”Teknik ini saya pelajari sejak 25 tahun lalu. Untuk membuat mesin pencetaknya tidak mudah. Saya telah gagal berpuluh-puluh kali sebelum berhasil membuat yang terakhir ini. Biasanya kalau cetakan tidak meleset ya warna kedua sisinya berbenturan sehingga bayangan motif sisi sebelah terlihat membayang,” tutur penemu Batik Duplex, Ir Ignatius Hermawan.

Lebih lanjut Hermawan menuturkan, ketika batik ”bolak-balik” temuannya mulai diperkenalkan, ternyata banyak orang yang meragukan. Mereka mengira bila warna pada kedua sisinya tersebut terjadi karena kebetulan belaka. Untuk menepis pandangan minor tersebut, dirinya sengaja membuat kedua sisi kain yang bermotif sama diberikan warna yang berbeda.

”Beberapa waktu lalu, bahan ada master urusan garment dan kain dari perusahaan percetakan terbesar Korea datang menemui saya. Waktu saya tunjukkan batik ini dia hanya diam tidak berkata apa-apa. Tapi ketika pamit pulang dia bilang, saya beruntung dapat melihat cetakan seperti ini, saya telah keliling dunia tetapi baru di sini ada cetaan seperti ini, kamu adalah yang pertama,” tutur Hermawan.

MURI

Untuk mengukuhkan keberadaan Batik Duplex, Hermawan mencatatkan penemuannya dalam Museum Dunia Rekor Indonesia (Muri), sebagai batik dengan motif bolak-balik yang pertama dan terpanjang. Selain itu, dirinya juga mematenkan penemuannya untuk menghindarkan penjiplakan atau pengakuan pihak-pihak lain.

”Saya sudah mematenkannya melalui Haki. Untuk lebih memperkuat lagi, saya juga mendaftarkannya ke lembaga pemberi hak paten di Kerajaan Malaysia. Ini saya rasa perlu untuk menghindari pengakuan orang-orang Malaysia yang terkenal hobi mematenkan apapun yang datang dari Indonesia,” tutur Hermawan. Zainal Arifin ZA/mc

 

Advertisements